Senin, 02 Juni 2014

Detik-detik Kepergian Ayah

Dengan Nama Alloh Yang Maha Pengasih dan Penyayang

Entah mengapa malam ini rindu sekali pada ayah. Hanya tulisan ini yang aku harapkan dapat mengurai rasa rindu kepada ayah.

Awal Ramadhan 1423 H (10 Juli 2014)
Seharian itu ayah ngga bisa pipis. Setiap kali mau pipis selalu teriak. Kami awalnya menyangka hanya kerewelan ayah saja. Sampai akhirnya, setelah pulang tarawih ayah semakin merintih kesakitan. Perutnya mengeras. Akhirnya kami memutuskan untuk membawa ayah ke RS.

Tiba di RS langsung dipasangkan kateter. Ngga nunggu waktu lama keluar pipisnya banyaaakkk sekali. Dan ayah sudah mulai tersenyum lega. Alhamdulillah, kami bahagia melihatnya. Kami hanya mengira paling 1-2 hari lah di RS

Esoknya, dokter ginjal bicara padaku bahwa untuk observasi ada apa dengan ginjal dan saluran pipis ayah belum diperbolehkan pulang. Kemungkinan ada infeksi di saluran pipis. Mungkin akibat endapan obat-obatan stroke selama 19 tahun dikonsumsi.

Satu minggu setelah di rumah sakit (Rabu, 17 Juli 2013) dokter ginjal menyatakan kondisi saluran pipis ayah mulai membaik, infeksi sudah diobati. Dan kemungkinan Hari Senin (22 Juli 2013) ayah sudah boleh pulang.

Minggu malam (21 Juli 2013) tiba-tiba panas badan ayah meninggi dan nafsu maan menurun. Dokter internist tidak membolehkan ayah pulang. Esoknya, Senin (22 Juli 2013) ayah muntah darah, dan dari selang kateter juga terdapat gumpalan darah. Ada apa ini?? Kenapa kondisi ayah tiba-tiba menurun?

Rabu malam (24 Juli 2013) kondisi jantung ayah semakin melemah. Aku yang baru saja tiba di rumah pukul 23.00 langsung balik lagi ke RS dan memutuskan untuk menginap di RS.

Esok paginya (25 Juli 2013) ayah tidak sadarkan diri dan langsung di bawa ke ruang HCU. Inilah saat yang paling menyedihkan bunda, di hari itu miladnya yang ke 60 tahun, di saat yang bersamaan juga pensiun dari pekerjaannya, dan di saat itu juga bunda menyaksikan tubuh lemah ayah di bawa ke HCU.

Entah mengapa saat itu perasaanku berkata, ini akan menjadi saat terakhir aku menemani ayah. Dan kuputuskan untuk tetap mendampingi bunda menemani ayah. Aku meminta doa kepada semua kerabat dan sanak saudara. Air mata semakin tak terbendung.

Tengah malam (26 Juli 2013 pukul 00.00) ayah dipindahkan ke ICU. Semakin kecil perasaanku. Saat itu cuma aku dan bunda yang menemani ayah. Bunda mendamping ayah, dan aku yang mengurus segala administrasinya. Tak kupedulikan rasa takut bolak balik melewati kamar jenazah dan lorong rumah sakit tua. Hanya derai air mata yang terus menemani.

Jumat malam (27 Juli 2013) dokter mengumpulkan kami sekeluarga dan mengatakan bahwa kondisi ayah diambang kritis, semua hasil laboraturium melewati ambang batas normal. Dan ternyata ayah didiagnosa menderita DBD. Inilah yang membuat kami terkejut, sampai tidak mampu terdeteksi. Jadi semua kesakitan ayah tiba-tiba menjadi panas tinggi dan keluar darah akibat DBD, bukan daei penyakit stroke atau infeksi pipisnya. Kami semua sudah pasrah. Aku terus meyakinkan bunda, apapun itu, mau DBD, stroke, infeksi pipism dan penyakit lain hanya "media" bagi jalan ayah untuk bertemu Alloh.

Subuh (28 Juli 2013 pukul 04.00) aku dan bunda memaksa masuk ke ruang ICU. Memperhatikan ayah yang semakin melemah. Aku terus mengaji untuk ayah, dan bunda mendampingi tanpa berhenti berzikir. Sampa akhirnya bunda menyadari nafas ayah berhenti di pukul 04.15. TApi aku belum yakin ayah pergi karena indikator detak jantung masih berjalan meskipun semakin melemah.

Pukul 05.00 semua saudara kandungku berkumpul di ICU dan dokter memutuskan untuk memompa jantung ayah. Inilah prosedur terakhir dalam dunia kedokteran untuk menyelamatkan nyawa pasien. Sampai akhirnya mesin indikator itu pun berhenti di saat jarum jam menunjuk angka 05.30.

Innalillahi wa inna illahi rojiun.....

Pergilah dengan damai ayah dengan seutas senyum manis tetap tersungging di wajahmu.