Dengan Nama Alloh Yang Maha Pengasih dan Penyayang....
Wahai semesta,
Aku tahu, tak ada yang mampu memahami
Peliknya segala gundah
Gemetarnya segenap gelegar
Dan perihnya aliran air mata
Aku mengerti, lambat laun akan melebur
Bagai buih yang memecah gelombang
Sampai akhirnya menjadi buraian pasir
Wahai semesta,
Berlarilah....
Menghilanglah....
Biarkan aku meredam dalam renungan suci Nya
Maafku selalu, untuk semesta....
#Selamat menunaikan ibadah puasa. Mohon Maaf Lahir dan Batin#
Minggu, 29 Juni 2014
Jumat, 20 Juni 2014
Kalo Ngga Dicoba Ngga Akan Tau Rasanya
Dengan Menyebut Nama Alloh Yang Maha Pengasih dan Penyayang
Deadline semakin mendekat.....!!!
Itu yang ada di pikiran beberapa bulan terakhir ini. Kalo ngga bergegas bisa tambah semester lagi.
Liat hasil data eksperimen murid-murid dengan jumlah responden seabrek cukup buat kepala mau pecah. Udah berada dititik ambang batas NYERAH. Tapiiiii..... "itu ngga gw banget!!"
Coba-coba, utak-atik, browsing, bolak-balik perpustakaan, beli buku ini itu, emang bukan hal yang gampang kelola data statistik. Apalagi langsung diterapkan di aplikasi SPSS. Makin kribo aja nih... *&%&$
Tapiiii..... Alloh pasti akan membuka jalan bagi hamba Nya yang tetap berusaha. Tanya sana-sini, bolak-balik buku, Alhamdulillah lembar-lembar yang kemarin terlewati entah kenapa terbuka jelas berkat arahan teman yang niat awalnya justru mau tanya hehehe. Tapi, itulah jalan Alloh, bisa dari mana saja.
Sedikit ilustrasi........................
Hhhhmmmmm........ Kalo ngga dicoba, memang ngga akan tau rasanya, bukan begitu?
Bismillah..... dengan MENCOBA saya jadi TAU dan MENGERTI apa yang seharusnya saya rasakan dan langkah apa yang selayaknya saya AMBIL. Dibarengi dengan segalaUSAHA dan KEIKHLASAN.
Semoga ini langkah yang TERBAIK.... :)
Deadline semakin mendekat.....!!!
Itu yang ada di pikiran beberapa bulan terakhir ini. Kalo ngga bergegas bisa tambah semester lagi.
Liat hasil data eksperimen murid-murid dengan jumlah responden seabrek cukup buat kepala mau pecah. Udah berada dititik ambang batas NYERAH. Tapiiiii..... "itu ngga gw banget!!"
Coba-coba, utak-atik, browsing, bolak-balik perpustakaan, beli buku ini itu, emang bukan hal yang gampang kelola data statistik. Apalagi langsung diterapkan di aplikasi SPSS. Makin kribo aja nih... *&%&$
Tapiiii..... Alloh pasti akan membuka jalan bagi hamba Nya yang tetap berusaha. Tanya sana-sini, bolak-balik buku, Alhamdulillah lembar-lembar yang kemarin terlewati entah kenapa terbuka jelas berkat arahan teman yang niat awalnya justru mau tanya hehehe. Tapi, itulah jalan Alloh, bisa dari mana saja.
Sedikit ilustrasi........................
Hhhhmmmmm........ Kalo ngga dicoba, memang ngga akan tau rasanya, bukan begitu?
Bismillah..... dengan MENCOBA saya jadi TAU dan MENGERTI apa yang seharusnya saya rasakan dan langkah apa yang selayaknya saya AMBIL. Dibarengi dengan segalaUSAHA dan KEIKHLASAN.
Semoga ini langkah yang TERBAIK.... :)
Senin, 02 Juni 2014
Detik-detik Kepergian Ayah
Dengan Nama Alloh Yang Maha Pengasih dan Penyayang
Entah mengapa malam ini rindu sekali pada ayah. Hanya tulisan ini yang aku harapkan dapat mengurai rasa rindu kepada ayah.
Awal Ramadhan 1423 H (10 Juli 2014)
Seharian itu ayah ngga bisa pipis. Setiap kali mau pipis selalu teriak. Kami awalnya menyangka hanya kerewelan ayah saja. Sampai akhirnya, setelah pulang tarawih ayah semakin merintih kesakitan. Perutnya mengeras. Akhirnya kami memutuskan untuk membawa ayah ke RS.
Tiba di RS langsung dipasangkan kateter. Ngga nunggu waktu lama keluar pipisnya banyaaakkk sekali. Dan ayah sudah mulai tersenyum lega. Alhamdulillah, kami bahagia melihatnya. Kami hanya mengira paling 1-2 hari lah di RS
Esoknya, dokter ginjal bicara padaku bahwa untuk observasi ada apa dengan ginjal dan saluran pipis ayah belum diperbolehkan pulang. Kemungkinan ada infeksi di saluran pipis. Mungkin akibat endapan obat-obatan stroke selama 19 tahun dikonsumsi.
Satu minggu setelah di rumah sakit (Rabu, 17 Juli 2013) dokter ginjal menyatakan kondisi saluran pipis ayah mulai membaik, infeksi sudah diobati. Dan kemungkinan Hari Senin (22 Juli 2013) ayah sudah boleh pulang.
Minggu malam (21 Juli 2013) tiba-tiba panas badan ayah meninggi dan nafsu maan menurun. Dokter internist tidak membolehkan ayah pulang. Esoknya, Senin (22 Juli 2013) ayah muntah darah, dan dari selang kateter juga terdapat gumpalan darah. Ada apa ini?? Kenapa kondisi ayah tiba-tiba menurun?
Rabu malam (24 Juli 2013) kondisi jantung ayah semakin melemah. Aku yang baru saja tiba di rumah pukul 23.00 langsung balik lagi ke RS dan memutuskan untuk menginap di RS.
Esok paginya (25 Juli 2013) ayah tidak sadarkan diri dan langsung di bawa ke ruang HCU. Inilah saat yang paling menyedihkan bunda, di hari itu miladnya yang ke 60 tahun, di saat yang bersamaan juga pensiun dari pekerjaannya, dan di saat itu juga bunda menyaksikan tubuh lemah ayah di bawa ke HCU.
Entah mengapa saat itu perasaanku berkata, ini akan menjadi saat terakhir aku menemani ayah. Dan kuputuskan untuk tetap mendampingi bunda menemani ayah. Aku meminta doa kepada semua kerabat dan sanak saudara. Air mata semakin tak terbendung.
Tengah malam (26 Juli 2013 pukul 00.00) ayah dipindahkan ke ICU. Semakin kecil perasaanku. Saat itu cuma aku dan bunda yang menemani ayah. Bunda mendamping ayah, dan aku yang mengurus segala administrasinya. Tak kupedulikan rasa takut bolak balik melewati kamar jenazah dan lorong rumah sakit tua. Hanya derai air mata yang terus menemani.
Jumat malam (27 Juli 2013) dokter mengumpulkan kami sekeluarga dan mengatakan bahwa kondisi ayah diambang kritis, semua hasil laboraturium melewati ambang batas normal. Dan ternyata ayah didiagnosa menderita DBD. Inilah yang membuat kami terkejut, sampai tidak mampu terdeteksi. Jadi semua kesakitan ayah tiba-tiba menjadi panas tinggi dan keluar darah akibat DBD, bukan daei penyakit stroke atau infeksi pipisnya. Kami semua sudah pasrah. Aku terus meyakinkan bunda, apapun itu, mau DBD, stroke, infeksi pipism dan penyakit lain hanya "media" bagi jalan ayah untuk bertemu Alloh.
Subuh (28 Juli 2013 pukul 04.00) aku dan bunda memaksa masuk ke ruang ICU. Memperhatikan ayah yang semakin melemah. Aku terus mengaji untuk ayah, dan bunda mendampingi tanpa berhenti berzikir. Sampa akhirnya bunda menyadari nafas ayah berhenti di pukul 04.15. TApi aku belum yakin ayah pergi karena indikator detak jantung masih berjalan meskipun semakin melemah.
Pukul 05.00 semua saudara kandungku berkumpul di ICU dan dokter memutuskan untuk memompa jantung ayah. Inilah prosedur terakhir dalam dunia kedokteran untuk menyelamatkan nyawa pasien. Sampai akhirnya mesin indikator itu pun berhenti di saat jarum jam menunjuk angka 05.30.
Innalillahi wa inna illahi rojiun.....
Pergilah dengan damai ayah dengan seutas senyum manis tetap tersungging di wajahmu.
Entah mengapa malam ini rindu sekali pada ayah. Hanya tulisan ini yang aku harapkan dapat mengurai rasa rindu kepada ayah.
Awal Ramadhan 1423 H (10 Juli 2014)
Seharian itu ayah ngga bisa pipis. Setiap kali mau pipis selalu teriak. Kami awalnya menyangka hanya kerewelan ayah saja. Sampai akhirnya, setelah pulang tarawih ayah semakin merintih kesakitan. Perutnya mengeras. Akhirnya kami memutuskan untuk membawa ayah ke RS.
Tiba di RS langsung dipasangkan kateter. Ngga nunggu waktu lama keluar pipisnya banyaaakkk sekali. Dan ayah sudah mulai tersenyum lega. Alhamdulillah, kami bahagia melihatnya. Kami hanya mengira paling 1-2 hari lah di RS
Esoknya, dokter ginjal bicara padaku bahwa untuk observasi ada apa dengan ginjal dan saluran pipis ayah belum diperbolehkan pulang. Kemungkinan ada infeksi di saluran pipis. Mungkin akibat endapan obat-obatan stroke selama 19 tahun dikonsumsi.
Satu minggu setelah di rumah sakit (Rabu, 17 Juli 2013) dokter ginjal menyatakan kondisi saluran pipis ayah mulai membaik, infeksi sudah diobati. Dan kemungkinan Hari Senin (22 Juli 2013) ayah sudah boleh pulang.
Minggu malam (21 Juli 2013) tiba-tiba panas badan ayah meninggi dan nafsu maan menurun. Dokter internist tidak membolehkan ayah pulang. Esoknya, Senin (22 Juli 2013) ayah muntah darah, dan dari selang kateter juga terdapat gumpalan darah. Ada apa ini?? Kenapa kondisi ayah tiba-tiba menurun?
Rabu malam (24 Juli 2013) kondisi jantung ayah semakin melemah. Aku yang baru saja tiba di rumah pukul 23.00 langsung balik lagi ke RS dan memutuskan untuk menginap di RS.
Esok paginya (25 Juli 2013) ayah tidak sadarkan diri dan langsung di bawa ke ruang HCU. Inilah saat yang paling menyedihkan bunda, di hari itu miladnya yang ke 60 tahun, di saat yang bersamaan juga pensiun dari pekerjaannya, dan di saat itu juga bunda menyaksikan tubuh lemah ayah di bawa ke HCU.
Entah mengapa saat itu perasaanku berkata, ini akan menjadi saat terakhir aku menemani ayah. Dan kuputuskan untuk tetap mendampingi bunda menemani ayah. Aku meminta doa kepada semua kerabat dan sanak saudara. Air mata semakin tak terbendung.
Tengah malam (26 Juli 2013 pukul 00.00) ayah dipindahkan ke ICU. Semakin kecil perasaanku. Saat itu cuma aku dan bunda yang menemani ayah. Bunda mendamping ayah, dan aku yang mengurus segala administrasinya. Tak kupedulikan rasa takut bolak balik melewati kamar jenazah dan lorong rumah sakit tua. Hanya derai air mata yang terus menemani.
Jumat malam (27 Juli 2013) dokter mengumpulkan kami sekeluarga dan mengatakan bahwa kondisi ayah diambang kritis, semua hasil laboraturium melewati ambang batas normal. Dan ternyata ayah didiagnosa menderita DBD. Inilah yang membuat kami terkejut, sampai tidak mampu terdeteksi. Jadi semua kesakitan ayah tiba-tiba menjadi panas tinggi dan keluar darah akibat DBD, bukan daei penyakit stroke atau infeksi pipisnya. Kami semua sudah pasrah. Aku terus meyakinkan bunda, apapun itu, mau DBD, stroke, infeksi pipism dan penyakit lain hanya "media" bagi jalan ayah untuk bertemu Alloh.
Subuh (28 Juli 2013 pukul 04.00) aku dan bunda memaksa masuk ke ruang ICU. Memperhatikan ayah yang semakin melemah. Aku terus mengaji untuk ayah, dan bunda mendampingi tanpa berhenti berzikir. Sampa akhirnya bunda menyadari nafas ayah berhenti di pukul 04.15. TApi aku belum yakin ayah pergi karena indikator detak jantung masih berjalan meskipun semakin melemah.
Pukul 05.00 semua saudara kandungku berkumpul di ICU dan dokter memutuskan untuk memompa jantung ayah. Inilah prosedur terakhir dalam dunia kedokteran untuk menyelamatkan nyawa pasien. Sampai akhirnya mesin indikator itu pun berhenti di saat jarum jam menunjuk angka 05.30.
Innalillahi wa inna illahi rojiun.....
Pergilah dengan damai ayah dengan seutas senyum manis tetap tersungging di wajahmu.
Ayah.... Cintaku dan Rinduku
Dengan Nama Alloh Yang Maha Pengasih dan Penyayang
Detik-detik menjelang Ramadhan semakin mendekat. Kembali ingatanku terpaku pada Ramadhan terakhir. Pedih, perih rasanya membayangkan saat itu. Yaaa... tepat awal Ramadhan satu tahun yang lalu, kenangan terakhir bersama orang yang sangat aku hormati, cintai, sayangi, dan rindukan saat ini.
Ayah....
Penderitaanmu telah berakhir.
Yang kulihat hanya seutas senyum yang sampai kapan pun kan selalu kurindukan.
Aku rindu rewelnya ayah....
Aku rindu galaknya ayah.....
Aku rindu teriak dan bentakannya ayah.....
Aku rindu nyebelinnya ayah....
Aku rindu cubitan dan cakaran ayah....
Yang dulu tak aku sadari bahwa itulah cara Alloh membuka pintu surga dengan berbakti kepadamu.
Ayah, maafkan anakmu yang belum sempat membahagiakanmu.
Maafkan anakmu yang justru sering tidak sabar menghadapi kerewelanmu.
Maafkan anakmu yang sering asal meladenimu.
Maafkan anakmu, maafkan anakmu, maafkan anakmu.....
Detik-detik menjelang Ramadhan semakin mendekat. Kembali ingatanku terpaku pada Ramadhan terakhir. Pedih, perih rasanya membayangkan saat itu. Yaaa... tepat awal Ramadhan satu tahun yang lalu, kenangan terakhir bersama orang yang sangat aku hormati, cintai, sayangi, dan rindukan saat ini.
Ayah....
Penderitaanmu telah berakhir.
Yang kulihat hanya seutas senyum yang sampai kapan pun kan selalu kurindukan.
Aku rindu rewelnya ayah....
Aku rindu galaknya ayah.....
Aku rindu teriak dan bentakannya ayah.....
Aku rindu nyebelinnya ayah....
Aku rindu cubitan dan cakaran ayah....
Yang dulu tak aku sadari bahwa itulah cara Alloh membuka pintu surga dengan berbakti kepadamu.
Ayah, maafkan anakmu yang belum sempat membahagiakanmu.
Maafkan anakmu yang justru sering tidak sabar menghadapi kerewelanmu.
Maafkan anakmu yang sering asal meladenimu.
Maafkan anakmu, maafkan anakmu, maafkan anakmu.....
Kamis, 08 Mei 2014
Kembalinya Si Anak Hilang (Sekelumit Korban Human Trafficking - finish)
Dengan Nama Alloh Yang Maha Pengasih dan Penyayang....
Masih ingat cerita saya tentang Tari? Si anak hilang korban human trafficking yang ditemukan di salah satu kolong jembatan di Kuala Lumpur.
Alhamdulillah, Tari sudah berbahagia sekarang. Bertemu lagi dengan keluarganya tercinta. Tapi untuk sementara belum bisa dipulangkan ke keluarganya, masih dititipkan di Penampungan di bawah Kementrian Sosial.
Flash back bagaimana Tari bisa kembali, tak lepas dari bantuan rekan saya yang ada di Malaysia. Secara kebetulan atasannya punya link dengan KBRI Malaysia. Sebelumnya saya minta tolong untuk melacak bagaimana keberadaan LSM Tenaganita, terutama yang berkaitan dengan legalitas lembaganya.
Sebelum saya mengirimkan seluruh dokumen Tari, saya meminta mereka untuk mengirimkan copy legalitas lembaganya. Itupun setelah mereka mengirim tidak langsung saya percaya. Betul2 jangan sampai terulang lagi kesalahan fatal dengan pengiriman personal document Tari. Sampai akhirnya pihak KBRI meyakinkan bahwa LSM Tenaganita memang legal dan beberapa kali bekerja sama dengan KBRI soal pemulangan TKI ilegal.
Singkat cerita, saya email semua dokumen Tari, mulai dari KTP, KK, copy ijazah untk LSM tersebut dengan cc ke KBRI. Harusnya bisa ditangani lebih cepat jika tidak ada kendala paspor yang dibuatkan agennya Tari ternyata PALSU. (Oiya, Tari buat paspor bukan di Jakarta, dan perjalannya menuju Malaysia cukup rumit, jalur yang ditempuh Jakarta - Sukabumi - Jember - Kediri - Surabaya - Batam - Malaysia). Di Jember inilah ia dibuatkan paspor.
Tari sudah bertemu langsung dengan keluarganya, membawa sekelumit kisah pedih selama ia ada di agen ilegal. Saya menyaksikan sendiri bekas2 siksaannya, mulai dari diserika, diketok pakai martil, dan yang paling parah beberapa kali dicecokin narkoba jenis shabu dan inex sampai akhirnya ia tidak sadarkan diri dan beberapa kali pula diperkosa secara bergilir dengan pihak agen ilegal tersebut. Sungguh memprihatinkan.
Akhir cerita, semoga ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi Tari. Walaupun demikian, saya yakin seyakin-yakinnya, masa depan Tari belumlah hancur jika ia berniat untuk bersungguh-sungguh berubah. Untuk sementara waktu ia masih ditempatkan di penampungan sampai kasusnya tuntas (sedang ditangani pihak Bareskrim, dan untuk pemulihan kondisi fisik dan psikisnya).
Betapa sayangnya Alloh kepada Tari, masih diberikan kesempatan untuk kembali kepada keluarganya dan semoga menjadi manusia yang lebih baik lagi.
Doa kami kan selalu menyertaimu.......
Masih ingat cerita saya tentang Tari? Si anak hilang korban human trafficking yang ditemukan di salah satu kolong jembatan di Kuala Lumpur.
Alhamdulillah, Tari sudah berbahagia sekarang. Bertemu lagi dengan keluarganya tercinta. Tapi untuk sementara belum bisa dipulangkan ke keluarganya, masih dititipkan di Penampungan di bawah Kementrian Sosial.
Flash back bagaimana Tari bisa kembali, tak lepas dari bantuan rekan saya yang ada di Malaysia. Secara kebetulan atasannya punya link dengan KBRI Malaysia. Sebelumnya saya minta tolong untuk melacak bagaimana keberadaan LSM Tenaganita, terutama yang berkaitan dengan legalitas lembaganya.
Sebelum saya mengirimkan seluruh dokumen Tari, saya meminta mereka untuk mengirimkan copy legalitas lembaganya. Itupun setelah mereka mengirim tidak langsung saya percaya. Betul2 jangan sampai terulang lagi kesalahan fatal dengan pengiriman personal document Tari. Sampai akhirnya pihak KBRI meyakinkan bahwa LSM Tenaganita memang legal dan beberapa kali bekerja sama dengan KBRI soal pemulangan TKI ilegal.
Singkat cerita, saya email semua dokumen Tari, mulai dari KTP, KK, copy ijazah untk LSM tersebut dengan cc ke KBRI. Harusnya bisa ditangani lebih cepat jika tidak ada kendala paspor yang dibuatkan agennya Tari ternyata PALSU. (Oiya, Tari buat paspor bukan di Jakarta, dan perjalannya menuju Malaysia cukup rumit, jalur yang ditempuh Jakarta - Sukabumi - Jember - Kediri - Surabaya - Batam - Malaysia). Di Jember inilah ia dibuatkan paspor.
Tari sudah bertemu langsung dengan keluarganya, membawa sekelumit kisah pedih selama ia ada di agen ilegal. Saya menyaksikan sendiri bekas2 siksaannya, mulai dari diserika, diketok pakai martil, dan yang paling parah beberapa kali dicecokin narkoba jenis shabu dan inex sampai akhirnya ia tidak sadarkan diri dan beberapa kali pula diperkosa secara bergilir dengan pihak agen ilegal tersebut. Sungguh memprihatinkan.
Akhir cerita, semoga ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi Tari. Walaupun demikian, saya yakin seyakin-yakinnya, masa depan Tari belumlah hancur jika ia berniat untuk bersungguh-sungguh berubah. Untuk sementara waktu ia masih ditempatkan di penampungan sampai kasusnya tuntas (sedang ditangani pihak Bareskrim, dan untuk pemulihan kondisi fisik dan psikisnya).
Betapa sayangnya Alloh kepada Tari, masih diberikan kesempatan untuk kembali kepada keluarganya dan semoga menjadi manusia yang lebih baik lagi.
Doa kami kan selalu menyertaimu.......
Kamis, 10 April 2014
Politics....?? It's Just A NONSENSE!!!
Dengan Nama Alloh Yang Maha Pengasih Dan Penyayang.
Pemilu legislatif baru aja lewat. Dari dulu saya ngga pernah tertarik dengan yang namanya POLITIK. Sampai kapanpun saya sudah berjanji kepada diri saya sendiri untuk jangan sampai terlibat dengan yang namanya Politik. Walaupun saya dari SMA sudah diperkenalkan dengan politik dan bahkan sempat "diceburin" ke ranah politik. Jangankan menjadi partisan atau minimal simpatisan deh, tertarik untuk saya lirik pun OGAH hehehe. Ketika saya kuliah, jurusan yang saya minati ada di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, tapi saya paling ngga perduli dengan mata kuliah politik dan sejenisnya.
Nah, kenapa dong katanya ngga suka tapi nge-blog tentang Politik? Berhubung satu dan lain hal, saya TERPAKSA memantau Pemilu tahun ini hehehe.
Telling the truth, saya selalu meragukan "kejurdilan" Pemilu. Banyak sekali pelanggaran yang meraja lela. Mirissss sekali. Prihatin dengan peserta Pemilu yang memang punya tujuan murni untuk memperhatikan nasib bangsa, dan bertahan untuk tidak bermain politik uang, ternyata akan dengan mudahnya terdepak dan tersingkir begitu saja sebelum bertarung
Berawal dari konstituen yang berpikiran GOLPUT (golongan pencari uang tunai). Slogan "ambil uangya, jangan pilih orangnya" ternyata ya ngga dianggap. Bagaimana tidak? Ada yang menjamin jatah sembako selama 6 bulan terakhir (bulan ini dengernya jatah terakhirnya). Siapa yang ngga tergoda. Sasarannya, ya siapa lagi kalau bukan penentu suara (masyarakat) dari golput tadi yang jumlahnya saya rasa lebih dari 50% pemilih. Harusnya mereka berfikir, kalaupun benar nasib rakyat diperhatikan, buat apa jaminan sembako hanya sampai akhir pencoblosan?? So, slogan "rakyat sekarang sudah pinter" ya bener banget, pinter nilep!!
Cobaan berikutnya adalah perjalanan kertas suara, yang katanya ada di beberapa daerah ternyata sudah dicoblos sebelum waktunya dihitung. Bahkan di berita TV sudah ada yang ditangkap (saya lupa daerahnya). Dan ternyata itulah kenyataannya!! Penggelembungan suara sudah biasa terjadi. Mulai dari tingkat "bawah" sampai di level yang tak bisa lagi saya sebutkan.
Duuuhhhhh Gusti...!!! Hati kecil saya menangis, menjerit. Mau jadi apa bangsa ini???!!! Gila!!! Bener-bener Gila!!! Rasanya saya ngga sanggup lagi liat kebobrokan Politik. Ingin rasanya menarik lagi manusia-manusia jujur itu untuk menjauh dari Politik!!! Walaupun banyak yang bilang, kalau tidak ada orang jujur dan bersih dalam sistem itu, bagaimana kebobrokan akan diberantas??!! Tapi jika sudah terkepung dengan kerumunan yang kotor, seberapa sanggup "sang bersih dan jujur" itu akan bertahan???
Selalu berharap yang terbaik sesuai dengan jalan yang diridhoi Alloh.
Sepertiga April 2014
Jumat, 21 Maret 2014
Sekelumit Kisah Korban Human Trafficking (part 2)
Dengan nama Alloh Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
Melanjutkan kisah Tari kemarin.....
Tetap berdoa ya, Tari :)
Melanjutkan kisah Tari kemarin.....
Akhirnya, LSM tempat Tari ditampung mengirimkan Legality Document. Dan telah saya email pula kelengkapan dokumen untuk pengurusan surat perjalanan (katanya sih seperti paspor). Saya tetap berdoa dan berharap yang terbaik untuk Tari.
Kemarin saya berbicara langsung dengan Tari. Ia mengatakan sangat menyesali kecerobohannya. Ia menangis meminta maaf kepada Saya dan mohon minta disampaikan maafnya kepada ibunya.
Dari kejadian ini, satu hal yang membuat Saya berfikir. Jangan pernah melakukan tindakan apapun dengan gegabah. Segala sesuatu harus dipikirkan dengan cermat. Apa yang terlihat berkilau di depan belum tentu akan cemerlang di belakang. Bak fatamorgana, hanya menipu secara kasat mata.
Semoga Tari tidak lagi berulah seperti keledai dungu yang akan jatuh di lubang yang sama. Saya berharap, setelah kejadian ini Tari akan menjadi lebih bijaksana dalam kehidupannya. Mengutip satu pepatah, "Tugas kita bukanlah melihat sesuatu hal yang samar-samar jauh di depan, tetapi selesaikanlah yang ada di depan mata".
Tetap berdoa ya, Tari :)
Langganan:
Postingan (Atom)